LAPORAN
PSIKOTERAPI
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
DEPOK
LANDASAN TEORI
A. Family Therapy
Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah Suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan.
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.
Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang tejadi dalam suatu keluarga.
Jenis-Jenis Family Therapy
Teori Keluarga Bowen
Penting untuk membedakan diri seseorang dari keluarganya. Kecemasan yang tak terkontrol menghasilkan ketidakmampuan berfungsi keluarga. Peran Konselor sebagai pelatih dan guru dan berkonsentrasi pada isu-isu keterikatan dan diferensiasi.
Teori Keluarga Psikodinamik
Pendekatan ini menggunakan cara dan strategi psikoterapi individual dalam situasi keluarga dengan mendorong munculnya insight tentang diri sendiri dan anggota keluarga, untuk membantu keluarga dalam pertukaran emosi, kontak konselor hanya sementara dan konselor akan menarik diri jika keluarga telah mampu mengatasi problemnya secara konstruktif. Peranan Konselor sebagai seorang guru dan interpreter pengalaman (analisis).
Konseling Keluarga Ekperiental (Pengalaman)
Masalah-masalah keluarga berakar dari perasaan-perasaan yang di tekan, kekakuan, penolakan / pengabaian impuls-impuls, kekurangwaspadaan, dan kematian emosional. Konselor menggunakan pribadinya sendiri. Mereka harus terbuka, spontan, empatic, sensitive dan harus mendemonstrasikan perhatian dan penerimaan. Mereka harus memperlakukan dengan terapi regresi dan mengajari anggota keluarga keterampilan-keterampilan baru dalam mengkomunikasikan perasaan-perasaan secara gamblang.
TUJUAN
Di bawah ini diringkas tujuan terapi keluarga. Seorang ahli terapi bertemu dengan keseluruhan keluarga dan kadang-kadang dengan suatu sub -sistem di dalam keluarga itu untuk membantu keluarga mempelajari:
Menyampaikan perasaan mereka (baik positif maupun negatif), kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, nilai-nilai dan harapan-harapan mereka lebih terbuka, jelas dan sungguh. Ahli terapi adalah seorang pelatih keterampilan komunikasi yang memperkuat hubungan yang efektif.
Menggeser pendekatan yang terutama difokuskan pada seorang (individu) anggota keluarga yang dibawa sebagai “pasien” ke pendekatan yang difokuskan pada penanggulangan penyakit yang tersembunyi,konflik dan pertumbuhan yang terhalang pada semua anggota keluarga yang menyebabkan masalah bagi si individu itu. Hal ini dapat mencakup sejumlah session terapi perkawinan kepada suami - istri (sub – sistem keluarga)
Mencegah dengan segera lingkaran tindakan saling memperbesar kepuasan kebutuhan di antara para anggota keluarga.
Saling memelihara dan tidak menghancurkan harga diri- masing-masing anggota keluarga.
Menyadari perjanjian keluarga mereka yaitu: berbagai peraturan,peran,nilai, harapan,dan kepercayaan yang tersirat (implisit). Kemudian merundingkan kembali suatu persetujuan kerja yang lebih luas dan relevan yang dapat memberi kepuasan dan pertanggung jawaban,kekuatan dan kesempatan pertumbuhan yang lebih adil.
Melihat yang positif dari usaha pertumbuhan yang gagal karena perilaku para anggota keluarga yang merintanginya. Kemudian belajar bagaimana mendorong pengungkapan usaha pertumbuhan ini dalam cara yang lebih bersifat perwujudan diri.
Mengatasi konflik yang tidak terhindarkan dalam kehidupan bersama dengan cara yang lebih konstruktif. Dan mengenal bahwa pertumbuhan seering dapat diaktifkan justru pada saat konflik.
Mengembangkan suatu keseimbangan yang lebih sehat antara kebutuhan dan kebersamaan dan kebutuhan akan otonomi ,dan memberi ruang gerak yang lebih besar bagi otonomi.
Mencoba perilaku dan ca berinteraksi yang baru yang lebih tanggap kepada kebutuhan dari seluruh anggota keluarga. Ini sering mencakup mengerjakan “pekerjaan rumah” Siantar session terapi
Membuat interaksi di dalam dan di antara sub–sistem keluarga itu lebih menimbulkan pertumbuhan
Membuka sistem keluarga itu dengan mengembangkan hubungan yang lebih bersifat mendukung orang, keluarga dan lembaga di luar keluarga tersebut.
Menciptakan suatu iklim antar pribadi yang paling sehat dalam keluarga itu, sehingga membuatnya suatu lingkungan pertubuhan yang lebih baik bagi semua anggota keluarga tersebut.
PROSES TERAPI
Family therapy biasanya masuk kedalam kaunseling. Perhubungan kaunseling keluarga biasanya mengikuti tahap-tahap yang boleh dijangkakan. Walaupun pakar dalam bidang kaunseling dan terapi keluarga mungkin tidak bersetuju tentang apakah yang patut berlaku dalam setiap tahap, tetapi kebanyakannya bersetuju bahwa perhubungan kaunseling keluarga biasanya melalui proses yang sama seperti berikut:
Tahap 1 : Tahap permulaan – Membina perhubungan dan membuat penilaian tentang masalah keluarga yang dihadapi.
Tahap 2 : Tahap pertengahan – Mengembangkan kesedaran emosi dan menerima pola ketidakfungsian keluarga.
Tahap 3 : Tahap akhir – Belajar bagaimana mengubah system keluarga.
Tahap 4 : Penamatan – Berpisah daripada terapi.
Tahap Permulaan : Membina Perhubungan dan Membuat Penilaian Masalah Keluarga
Pada tahap permulaan, kaunselor akan menerangkan tujuan dan proses terapi, peranan kaunselor dan tanggungjawab ahli keluarga dalam sesi.
Biasanya kaunselor akan:
1. Menggunakan rapot, keyakinan dan kepercayaan kepada kaunselor.
2. Menilai dinamik keluarga atau interaksi dan menjelaskan masalah utama.
Pembinaan rapot adalah kompleks karena kaunselor mesti membina perhubungan mempercayai (trust relationship) antara dirinya dengan setiap ahli keluarga dan pada masa yang sama membantu ahli keluarga untuk mempercayai antara satu sama lain. Seperti dalam kaunseling individu, perhubungan yang mesra, empatik dan tulen adalah penting dalam kaunseling keluarga. Kaunselor melayani (treat) setiap orang ahli keluarga sebagai penting; dan meminta atau mendesak (insist) setiap ahli keluarga bercakap untuk diri mereka sendiri dan mendengar antara satu sama lain dengan hormat. Atau sebab-sebab ini, kaunselor meminta setiap orang ahli keluarga untuk memberitahu apa yang mereka fikir atau anggap masalah utama dan menyatakan apa yang mereka harapkan atau mahukan daripada keluarga.
Tahap Pertengahan : Mengembangkan Kesedaran Emosi dan Menerima Pola Keluarga Disfungsi
Pada tahap pertengahan, kaunselor membantu ahli keluarga meneroka dan menganalisis dinamik mereka dan mendapatkan kefahaman apa yang menyebabkan masalah berlaku. Kaunselor ditahap ini biasanya lebih confrontational dan ahli keluarga biasanya mengalami serta mengakui rasa terluka, keperitan (hurt, pain) kekecewaan dan kehilangan. Kebimbangan bertambah bersama dengan pendedahan penuh emosi dan penentangan terdapat pada tahap pertengahan ini.
Dalam kaunseling keluarga, seperti juga dalam kaunseling individu, penentangan pada umumnya dilihat sebagai petanda positif sesuatu yang menandakan bahwa keluarga lebih dekat menghadapi (confronting) masalahnya atau menyedarkan kaunselor yang mereka bergerak terlalu cepat.
Ketakutan kepada perubahan (fear of change) menyumbang kepada penentang ini. Ahli keluarga mungkin menentang kaunseling atau terapi dengan membincangkan perkara-perkara yang superficial. Mereka mungkin juga menyoal kebolehan kaunselor untuk memahami masalah mereka. Lain-lain bentuk penentang yang biasa pada tahap ini ialah apabila seorang daripada ahli keluarga tidak mau bercakap kepada yang lain atau ahli keluarga mengganggu apabila salah seorang dari pada ahli keluarga mula mendedahkan sesuatu yang bermakna. Terdapat keadaan dimana semua ahli keluarga menentang dengan tidak memberitahu rahasia keluarga kepada masalah itu atau dengan menafikan bahwa orang yang terlibat telah bertambah baik. Pemindahan mungkin juga timbul semasa ahli keluarga mempojek emosi yang tidak selesai kepada counselor. Kounselor menolong ahli keluarga menangani (work through) penentangan dan pemindahan dengan bersabar terhadap klien dan dengan kepekaan serta empati bersama dengan kebimbangan dan ktakutan yang dijinakan oleh pendedahan tentang masalah mereka. Kounselor juga membantu ibu bapa melihat atau menyadari bahwa setengah daripada masalah mereka berpuncak daripada konflik yang tidak diselesaikan dalam keluarga asal mereka. Memainkan peranan atau psikodrama mungkin digunakan pada tahap ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rashid, ABD Rahim,dkk. 2006. Institusi Keluarga Menghadapi Cabaran ALAF
BARU. Kuala Lumpur:MAZIZA SDN.BHD
Hasnida. 2002. Family Counseling. Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3633/1/psiko-hasnida.pdf
Somaryati dan Astutik, Sri. 2013. Family Therapy Dalam Menangani Pola Asuh
Orang Tua yang Salah Pada Anak Slow Learner. No 1, Vol 3. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam. http://jurnalbki.uinsby.ac.id/index.php/jurnalbki/article/download/4/2
™Great_Vallzzz™
Rabu, 29 Maret 2017
Senin, 19 Desember 2016
Kepemimpinan dan Teori Kontingensi ( Fiedler)
Kepemimpinan dan Jenis-jenisnya

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yan perlu dikerjakan dan bagaimana
tugas itu dapat dilakukan secara efektif dan proses memfasilitasi usaha
individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Macam-macam/Jenis-jenis
Gaya Kepemimpinan :
1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang
diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung
jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan
hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang
secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu
mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan
demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung
jawab para bawahannya.
3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para
bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang
dihadapi.
Teori kontingensi
Teori kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana
kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan
situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya
kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan
kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin
bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor
situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler
(1967) . Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon
both the motivasional system of the leader and the degree to which the leader
has control and influence in a particular situation, the situational
favorableness (Fiedler, 1974:73).
Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok
dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat
mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu
skala sikap dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri
dari 16 butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang
dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling
tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi
menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi
dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang
tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor
LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang
dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke
terlaksananya tugas (task oriented).
Fiedler menyimpulkan bahwa:
1. Pemimpin dengan skor LPC rendah (pemimpin yang berorientasi ke tugas)
cenderung untuk berhasil paling baik dalam situasi kelompok baik yang
menguntungkan, maupun yang sangat tidak menguntungkan pemimpin.2. Pemimpin dengan skor LPC tinggi ( pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung untuk berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sederajat dengan keuntungannya.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi / lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
a. Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).
b. Struktur tugas (task structure)
Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu tidak jelas atau kabur.
c. Hubungan antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member relations)
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).
Berdasarkan ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik, struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.
Berdasarkan ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik, struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.
Daftar Pustaka
Kouzes, James M dan Posner, Barry
Z. 2004. Leadership The Challenge: Tantangan
Kepemimpinan. Alih Bahasa Wisnu Chandra Kristiaji. Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga
Soekarso,Iskandar putong . 2015. KEPEMIMPINAN:
Kajian Teoritis dan Praktis : Buku&Artikel Karya Iskandar Putong, 2015
Langganan:
Komentar (Atom)