Selasa, 05 April 2016

Alzheimer



 Alzheimer


Alzheimer Disease adalah suatu bentuk deteriosasi mental yang progresif. Banyak dialami wanita tiga kali lebih banyak dibanding pria. Orang yang mengalami ini akan mengalami deteriosasi progresif dalam fungsi mental yang meliputi ingatan,bahasa dan pemecahan masalah. Hal yang menyangkut ingatan individu akan menjadi pelupa.
Alzheimer pertamakali ditemukan oleh seorang neurolog Jerman, Alois Alzheimer (1864-1915) ketika seorang wanita berusia 56 Tahun yang menderita dementia berat diautopsi dan dia mencatat dua abnormalitas yang sekarang dianggap sebagai tanda tanda penyakit itu yakni : 1.Neuron-neuro n dalam selaput otak kelihatan kacau dan berantakan,dan ini disebut Neurofibrillary tangling. Diduga neuron-neuron yang kacau itu menimbulkan gangguan pada fungsi saraf yang kemudian  menyebabkan gangguan kognitif yang ebrkaitan dengan Alzheimer Disease dan (2) Ujung-ujung saraf otak wanita itu memperlihatkan deteriosasi berat. Bintik-bintik kecil deteriosasi itu disebut neuritic plaques. Kita sekarang memahami bahwa Alzheimer dapat diderita orang yang lebih muda maupun yang lebih tua ( >65 ) .Alzheimer bersifat genetik dan menurun.
Dementia Alzheimer adalah suatu penyakit bukan hanya dari degenerasi otak dari orang-oang yang sudah lanjut usia. Kerusakan otak pertama-tama terjadi pada selaput otak dan hipocampus (Daerah otak yang sangat penting untuk fungsi kognitif dan ingatan. Masalah utamanya adalah ingatan jangka pendek, dan dalam beberapa kasus,masalah dengan ingatan jangka pendek ini begitu hebat hingga individu tidak mampu mempertahankan ingatan jangka pendek ini begitu hebat sehingga individu tidak mampu mempertahankan ingatan cukup lama untuk melakukan tindakan yang memiliki tujuan. Masalah ini disebut dengan Abulia Kognitif.

Perbandingan otak normal (kiri) dengan otak alzheimer (kanan)







I.Patogenesa

Sejumlah patogenesa penyakit alzheimer yaitu:



1. Faktor genetik
Beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer ini
diturunkan melalui gen autosomal dominant. Individu keturunan garis
pertama pada keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita
demensia 6 kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal
Pemeriksaan genetika DNA pada penderita alzheimer dengan familial
early onset terdapat kelainan lokus pada kromosom 21 diregio proximal
log arm, sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus
pada kromosom 19. Begitu pula pada penderita down syndrome
mempunyai kelainan gen kromosom 21, setelah berumur 40 tahun
terdapat neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan penurunan
Marker kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan kelainan
histopatologi pada penderita alzheimer.
Hasil penelitian penyakit alzheimer terhadap anak kembar
menunjukkan 40-50% adalah monozygote dan 50% adalah dizygote.
Keadaan ini mendukung bahwa faktor genetik berperan dalam penyaki
alzheimer. Pada sporadik non familial (50-70%), beberapa penderitanya
ditemukan kelainan lokus kromosom 6, keadaan ini menunjukkan bahwa
kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi genetika pada
alzheimer.

2. Faktor infeksi

Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga
penderita alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata
diketemukan adanya antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan
infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat lambat, kronik dan remisi.
Beberapa penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru,
diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer.
Hipotesa tersebut mempunyai beberapa persamaan antara lain:

a. manifestasi klinik yang sama
b. Tidak adanya respon imun yang spesifik
c. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d. Timbulnya gejala mioklonus
e. Adanya gambaran spongioform

3. Faktor lingkungan

Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat
berperan dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antar
alain, aluminium, silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan
neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan
neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal tersebut
diatas belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum
adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang
tumpang tindih. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidak
seimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang
belum jelas.
Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan
depolarisasi melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan
masuk ke intraseluler (Cairan-influks) danmenyebabkan kerusakan
metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian
neuron.



4. Faktor imunologis
Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderita
alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin
dan peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan
haptoglobuli.
Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan bermakna dan
meningkat dari penderita alzheimer dengan penderita tiroid. Tiroid
Hashimoto merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkan
pada wanita muda karena peranan faktor immunitas

5. Faktor trauma
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit
alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju
yang menderita demensia pugilistik, dimana pada otopsinya ditemukan
banyak neurofibrillary tangles.


Global Detoration Scale ( GDS )


Tahap 1
Normal
Tidak ada perubahan fungsi subjektif maupun objektif pada fungsi intelektual
Tahap 2
Pelupa
Keluhan kehilangan barang-barang atau lupa nama-nama yang sudah diketahui. Tidak mengganggu pekerjaan maupun fungsi sosial. Sebagai komponen penuaan yang umum.
Tahap 3
Kebingungan awal
Penurunan kognitif menyebabkan gangguan pekerjaan dan fungsi sosial. Anomia, kesulitan menemukan kata yang tepat untuk berbicara, muncul kesulitan untuk mengingat kembali. Kehilangan ingatan menimbulkan kegelisahan bagi pasien.
Tahap 4
Kebingungan akhir (awal penyakit Alzheimer)
Penderita tidak dapat lagi mengatur keuangan atau aktivitas rumah tangga. Kesulitan mengingat kejadian yang baru terjadi. Mulai menjauhi pekerjaan yang sulit dan hobi. Menyangkal adanya gangguan memori.
Tahap 5
Awal demensia (moderat penyakit Alzheimer)
Penderita tidak dapat lagi bertahan tanpa asisten. Sering kehilangan orientasi waktu. Sulit menentukan baju. Ingat kejadian-kejadian yang tidak berhubungan; lupa beberapa detail masa lalu. Penderita umumnya menyangkal adanya masalah. Dapat menjadi penuh curiga atau tersedu-sedu.
Tahap 6
moderat demensia
(moderately severe penyakit Alzheimer)
Penderita membutuhkan asisten untuk aktivitas sehari-hari. Mengalami kesulitan mengartikan lingkungan sekitarnya. Lupa nama keluarga dan care giver; lupa sebagian besar detail masa lalu; kesulitan menghitung mundur dari 10; agitasi, paranoia, dan delusi sering terjadi.
Tahap 7
Akhir demensia
Penderita kehilangan kemampuan berbicara (hanya bergumam atau berteriak), berjalan, dan makan. Incontinent urine dan feces. Kesadaran berkurang menjadi stupor atau koma.


III.GEJALA KLINIK

Awitan dari perubahan mental penderita alzheimer sangat perlahan-
lahan, sehingga pasien dan keluarganya tidak mengetahui secara pasti kapan
penyakit ini mulai muncul. Terdapat beberapa stadium perkembangan penyakit
alzheimer yaitu:

Stadium I (lama penyakit 1-3 tahun)

Memory : new learning defective, remote recall mildly impaired
Visuospatial skills : topographic disorientation, poor complex contructions
Language : poor woordlist generation, anomia
Personality : indifference,occasional irritability
Psychiatry feature : sadness, or delution in some
Motor system : normal
EEG : normal
CT/MRI : normal
PET/SPECT : bilateral posterior hypometabolism/hyperfusion

Stadium II (lama penyakit 3-10 tahun)  

Memory : recent and remote recall more severely impaired
Visuospatial skills : spatial disorientation, poor contructions
Language : fluent aphasia
Calculation : acalculation  
Personality : indifference, irritability
Psychiatry feature : delution in some
Motor system : restlessness, pacing
EEG : slow background rhythm
CT/MRI : normal or ventricular and sulcal enlargeent
PET/SPECT : bilateral parietal and frontal
hypometabolism/hyperfusion

Stadium III (lama penyakit 8-12 tahun)

Intelectual function : severely deteriorated
Motor system : limb rigidity and flexion poeture
Sphincter control : urinary and fecal
EEG : diffusely slow
CT/MRI : ventricular and sulcal enlargeent
PET/SPECT : bilateral parietal and frontal
hypometabolism/hyperfusion



VI. KRITERIA DIAGNOSA

Terdapat beberapa kriteria untuk diagnosa klinis penyakit alzheimer yaitu:

1. Kriteria diagnosis tersangka penyakit alzheimer terdiri dari:
·        Demensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status
·        mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa, serta dikonfirmasikan
·        dengan test neuropsikologik  
·        Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi >2
·        Tidak ada gangguan tingkat kesadaran
·        Awitan antara umur 40-90 tahun, atau sering >65 tahun  
·        Tidak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya

2. Diagnosis tersangka penyakit alzheimer ditunjang oleh:  
·        Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa,
·        ketrampilan motorik, dan persepsi
·        ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku
·        Adanya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan
·        neuropatologi
·        Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non
·        spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat  
·        Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropu serebri

3. Gambaran lain tersangka diagnosa penyakit alzheimer setelah
·        dikeluarkan penyebab demensia lainnya terdiri dari:
·        Gejala yang berhubungan dengan depresi, insomnia, inkontinentia, delusi,
·        halusinasi, emosi, kelainan seksual, berat badan menurun
·        Kelainan neurologi lain pada beberapa pasien, khususnya penyakit pada
·        stadium lanjut dan termasuk tanda-tanda motorik seperti peningkatan
·        tonus otot, mioklonus atau gangguan berjalan  
·        Terdapat bangkitan pada stadium lanjut

4. Gambaran diagnosa tersangka penyakit alzheimer yang tidak jelas
terdiri dari:
·        Awitan mendadak  
·        Diketemukan gejala neurologik fokal seperti hemiparese, hipestesia,
·        defisit lapang pandang dan gangguan koordinasi
·        Terdapat bangkitan atau gangguan berjalan pada saat awitan

5. Diagnosa klinik kemungkinan penyakit alzheimer adalah:
·        Sindroma demensia, tidak ada gejala neurologik lain, gejala psikiatri atau
·        kelainan sistemik yang menyebabkan demensia

·        Adanya kelainan sistemik sekunder atau kelainan otak yang menyebabkan
demensia, defisit kognisi berat secara gradual progresif yang diidentifikasi
tidak ada penyebab lainnya


6. Kriteria diagnosa pasti penyakit alzheimer adalah gabungan dri
kriteria klinik tersangka penyakit alzheimer dab didapatkan
gambaran histopatologi dari biopsi atau otopsi.

VII. Penyebab

Tak satupun faktor yang muncul menjadi penyebab Alzheimer. Ilmuwan percaya bahwa penyakit ini merupakan kombinasi antara genetik, gaya hidup dan faktor lingkungan. Alzheimer merusak dan membunuh sel otak.

VIII. Perawatan

Tidak ada pengobatan yang berhasil dengan baik, pasien hanya dijaga dan dilindungi dengan baik. Jenis obat-obatan yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk penyakit Alzheimer adalah rivastigne, galantamine, donepezil, dan Memantine. Keempat obat ini mampu meredakan gejala demensia dengan cara meningkatkan kadar dan aktivitas kimia di dalam otak.
Rivastigne, galantamine, dan donepezil biasanya digunakan untuk menangani penyakit Alzheimer dengan tingkat gejala awal hingga menengah. Sedangkan memantine biasanya diresepkan bagi penderita Alzheimer dengan gejala tahap menengah yang tidak dapat mengonsumsi obat-obatan lainnya. Memantine juga dapat diresepkan pada penderita Alzheimer dengan gejala yang sudah memasuki tahap akhir.

Daftar Pustaka
Semiun Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius
BR Reed.
Alzheimer disease: age antibodi onset and SPECT pattern of reginal
cerebral blood flow, Archieves of Neurology, 1990(47):628-633